Artikel

15 Tokoh Asal Sumbar Yang Mendapatkan Gelar Pahlawan Nasional

mohammad hatta
Mohammad Hatta

Menurut pengertiannya, Pahlawan Nasional adalah gelar penghargaan tingkat tertinggi di Indonesia. Gelar anumerta ini diberikan oleh Pemerintahan Indonesia atas tindakan yang dianggap heroik – didefinisikan sebagai “perbuatan nyata yang dapat dikenang dan diteladani sepanjang masa bagi warga masyarakat lainnya.” – atau “berjasa sangat luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara.

Ada tujuh kriteria yang harus dimiliki oleh seorang individu untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, yakni:

1. Warga Negara Indonesia yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya:

  • Telah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik/ perjuangan dalam bidang lain mencapai/merebut/mempertahankan/mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
  • Telah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara.
  • Telah menghasilkan karya besar yang mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.

2. Pengabdian dan Perjuangan yang dilakukannya berlangsung hampir sepanjang hidupnya (tidak sesaat) dan melebihi tugas yang diembannya.

3. Perjuangan yang dilakukan mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.

loading...

4. Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan/nasionalisme yang tinggi.

5. Memiliki akhlak dan moral yang tinggi.

6. Tidak menyerah pada lawan/musuh dalam perjuangannya.

7. Dalam riwayat hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang dapat merusak nilai perjuangannya.

Berdasarkan data yang kami himpun ada 15 orang tokoh asal Sumbar yang telah mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, siapa saja mereka? Yuk, baca yang berikut ini:

1. Abdoel Halim

Abdul Halim merupakan anak dari pasangan asal Banuhampu, Agam yaitu Achmad Sutan Iyus dan Darama. Ia dilahirkan di Bukittinggi pada 27 desember 1911.

Abdul Halim merupakan Perdana Menteri Indonesia pada waktu pemerintahan Republik Indonesia Serikat. Berkat sepupu ibunya yang bekerja di Bataafsche Petroleum Maatscappij (BPM – sekarang dikenal sebagai Pertamina), Abdoel Halim bisa menempuh pendidikan hingga Geneeskundige Hooge School atau Sekolah Kedokteran (sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia).

Selain sebagai Perdana Menteri, beliau juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Setelah keluar dari dunia politik, Ia kembali menekuni bidangnya sebagai dokter dan menjabat direktur Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Abdoel Halim yang juga hobi dengan sepak bola juga terlibat dalam pembentukan Voetbalbond Indonesische Jakarta (sekarang Persija) pada tahun 1927. Ia juga pernah menjadi ketua KOI dan IKADA Foundation. Pada tahun 1952 Ia juga memimpin kontingen Indonesia pertama dalam Olimpiade Helsinki.

2. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)

Siapa yang tidak kenal dengan Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang disingkat dengan HAMKA? Buya Hamka adalah seorang ulama, sastrawan serta politikus asal Sumbar. Beliau dilahirkan dari di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun.

Di dunia islam tanah air Buya Hamka adalah ulama yang sangat dihormati. Ia pernah memimpin Majelis Ulama Indonesia dan Muhammadiyah. Selain itu, meskipun belajar secara otodidak dan tidak pernah menempuh pendidikan formal, Buya Hamka juga dikenal sebagai sastrawan tanah air yang banyak melahirkan karya-karya besar yang sampai saat ini masih dibaca. Diantaranya adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang baru saja difilmkan.

3. Abdul Muis

Abdul Muis lahir di lahir di Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun.

Beliau merupakan Datuk Tumangguang Sutan Sulaiman yang merupakan seorang Demang yang selalu menentang kebijakan Belanda di daerah Agam.

Abdul Muis aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan menyuarakan perjuangannya melalui surat kabar. Ia juga bergabung dengan Sarekat Islam dan dipercaya sebagai utusan Sarekat Islam pergi ke negeri Belanda untuk mempropagandakan komite Indie Weerbaar. Dalam kunjungan itu, ia juga mendorong tokoh-tokoh Belanda untuk mendirikan Technische Hooge School.

4. Adnan Kapau Gani

Adnan Kapau Gani atau A.K. Gani merupakan pahlawan Nasional Indonesia yang pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Kemakmuran, Menteri Perdagangan serta Menteri Pertanian.

Gani dilahirkan di Palembayan, Agam, Sumatera Barat pada 16 September 1905 dan meninggal di Palembang, Sumatera Selatan pada 23 Desember 1968 pada umur 63 tahun.

5. Agus Salim

Nama pertama Agus Salim adalah Mashudul Haq yang berarti Pembela Kebenaran. Beliau dilahirkan di Koto Gadang, Agam pada 8 oktober 1884. Beliau merupakan anak dari Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab.

Dalam masa perjuangannya Agus Salim aktif di dunia jurnalistik di berbagai surat kabar. Selain itu ia juga pernah memimpin Sarekat Islam. Kemampuan diplomatik dan politiknya membuat Agus Salim beberapa kali menjabat sebagai Menteri Luar Negeri.

6. Bagindo Aziz Chan

Bagindo Aziz Chan adalah tokoh asal Kota Padang. Beliau merupakan Walikota Padang kedua setelah kemerdekaan menggantikan Walikota Padang sebelumnya Mr. Abubakar Jaar. Beliau lahir di Padang pada 30 September 1910 dan meninggal pada usia 36 tahun.

Untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa serta perjuangan Bagindo Aziz Chan maka di Kota Padang dibangun dua monumen untuknya. Pertama, monumen berbentuk kepalan tangan atau yang lebih dikenal sebagai Simpang Tinju di persimpangan Jalan Gajah Mada dan Jalan Jhoni Anwar. Menumen tersebut diresmikan oleh Wali Kota Padang Syahrul Ujud pada 19 Juli 1983. Monumen lainnya ada di Komplek Museum Adityawarman.

7. Hazairin

Hazairin lahir di Bukittinggi pada 28 November 1906 dari pasangan Zakaria Bahri (Bengkulu) dan Aminah (Minangkabau). Ia merupakan seorang pakar hukum adat. Ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I.

Hazairin juga pernah menjabat sebagai Residen Bengkulu, merangkap Wakil Gubernur Militer Sumatera Selatan. Ketika menjabat sebagai residen, dia mengeluarkan uang kertas yang dikenal sebagai “Uang Kertas Hazairin.”

8. Ilyas Yakoub

Ilyas Yakoub merupakan Pahlawan Nasional asal Sumbar yang lahir di Asam Kumbang, Bayang, Pesisir Selatan pada 14 Juni 1903 dan meninggal di Koto Barapak, Pesisir Selatan, Sumatera Barat pada 2 Agustus 1958 pada umur 55 tahun.

Ilyas Yakoub merupakan seorang ulama lulusan Mesir. Ia bahkan pernah memimpin mahasiswa Malaysia-Indonesia di Mesir. Selain itu Ia juga pernah mendirikan partai bernama PERMI (Persatuan Muslim Indonesia, 1932) berbasis pada lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia.

9. Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol adalah seorang ulama pejuang kemerdekaan Indonesia dalam mengusir Belanda. Nama aslinya adalah Muhammad Shahab dan dilahirkan di Bonjol, Pasaman pada tahun 1772. Beliau meninggal dunia di Lotak, Pineleng, Minahasa pada 6 November 1864.

Tuanku Imam Bonjol memimpin perjuangan dalam Perang Padri (1803-1838) sebelum akhirnya ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke dalam pengasingan di berbagai tempat di Indonesia.

10. Mohammad Hatta

Mohammad Hatta bersama dengan Ir. Soekarno adalah tokoh penting dalam mewujudkan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Beliau adalah anak dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha dan dilahirkan pada 12 Agustus 1902 di Fort de Kock (Bukittinggi).

Selain berperan sebagai proklamator, Hatta adalah seorang ekonom dan dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Hatta adalah pribadi yang sangat senang membaca, bahkan dalam pengasingannya ia selalu membawa buku-bukunya.

11. Mohammad Natsir

Mohammad Natsir lahir di Lembah Gumanti, Kabupaten Solok pada 17 Juli 1908. Beliau adalah seorang ulama, politisi dan pejuang kemerdekaan. Beliau adalah pendiri partai islam Masyumi. Ketokohannya di bidang politik tidak hanya di Indonesia, di dunia Internasional Mohammad Natsir pernah menjadi presiden Liga Muslim se-Dunia (World Muslim Congress) dan ketua Dewan Masjid se-Dunia.

12. Mohammad  Yamin

Mohammad Yamin lahir di Talawi, Sawahlunto dari pasangan Usman Baginda Khatib dan Siti Saadah. Beliau lahir pada 23 Agustus 1903 dan meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1962 pada umur 59 tahun. Beliau adalah sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum.

Mohammad Yamin merupakan salah satu perintis puisi modern Indonesia dan pelopor Sumpah Pemuda. Bersama Adenn Kapau Gani dan Amir Sjarifoeddin, Mohammad Yamin pernah mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo).

Selain itu Ia pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan Indonesia, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Indonesia serta Menteri Kehakiman Indonesia.

13. Rasuna Said

Rasuna Said merupakan seorang pejuang kemerdekaan Indonesia dan Pahlawan Nasional yang banyak memperjuangkan hak-hak wanita. Rasuna Said lahir di Maninjau pada tanggal 14 September 1910.

Selepas pendidikan dasar Rasuna Said melanjutkan pendidikan di pesantren Ar-Rasyidiyah. Di sana ia menjadi satu-satunya santri perempuan waktu itu. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Diniyah Putri Padang Panjang, dan bertemu dengan Rahmah El Yunusiyyah, seorang tokoh gerakan Thawalib.

Dalam perjuangannya Rasuna Said fokus untuk memperjuangkan hak-hak wanita, tidak hanya pendidikan tapi hingga politik. Ia menyuarakan gagasan dan perjuangannya melalui surat kabar yang dipimpinnya. Tulisan-tulisannya yang tajam membuat Belanda harus mempersempit ruang gerak Rasuna Said.

14. Sutan Sjahrir

Sutan Syahrir lahir di Padang Panjang pada 5 Maret 1909 dan meninggal di Zürich, Swiss, 9 April 1966 pada umur 57 tahun. Sutan Syahrir merupakan perdana menteri pertama Indonesia. Ia juga merupakan saudara seayah dari Rohana Kudus aktivis serta wartawan wanita dari Koto Gadang, Agam.

15. Tan Malaka

Tan Malaka merupakan gelar dari nama aslinya yaitu Ibrahim. Nama lengkapnya adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka. Beliau dilahirkan di Pandan Gadang, Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota. Ayahnya bernama HM. Rasad, seorang karyawan pertanian dan ibunya bernama Rangkayo Sinah.

Tan Malaka merupakan tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia juga melahirka beberapa karya penting seperti Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) dan Garpolek (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi)

Komentar

To Top
Loading...