Artikel

Inilah 14 Cerita Dari Sumatera Barat Yang Diangkat Menjadi Film

Sumatera Barat selain kaya akan keindahan alam, juga banyak menyimpan cerita-cerita. Mulai dari cerita rakyat yang diceritakan dari mulut ke mulu dan dari generasi ke generasi hingga cerita roman dan fiksi karya para sastrawan kelahiran Ranah Minang. Bebeberapa cerita bahkan pernah diangkat menjadi film, FTV, Mini Seri dan Sinetron. Seperti 14 Cerita dari Sumbar yang diangkat menjadi film berikut ini:

1. Malin Kundang

Malin_kuntron 220px-Malin_Kundang_poster

Film Malin Kundang (Anak Durhaka). Film ini digarap pada tahun 1971, disutradarai oleh D. Djajakusuma dan skenarionya ditulis oleh sastrawan Ranah Minang, Asrul Sani.

Film ini dibintangi Rano Karno, Putu Wijaya, dan Fifi Young. Namun sayang film yang diangkat dari cerita rakyat Malin Kundang ini gagal mendapat perhatian publik waktu itu.

Selain diangkat menjadi film, kisah Malin Kundang juga pernah diangkat menjadi kisah sinetron yang di tayangkan di SCTV. Namun setting peristiwanya merupakan tahun 2000-an. Selain di SCTV sinetron Malin Kundang juga ditayangkan di TV9 Malaysia. Program ini kemudian mendapat penghargaan SCTV Awards 2005.

loading...

2. Sengsara Membawa Nikmat

sengsara-membawa-nikmat

Film Sengsara Membawa Nikmat diangkat dari kisah dalam novel dengan judul yang sama karya Tulis Sutan Sati yang mengisahkan dua orang pemuda, Kacak dan Midun. Film ini juga dikenal masyarakat dengan film Kacak Midun.

Film yang diproduksi tahun 1991 ini berformat mini seri dengan 20 lebih episode dan ditayangkan di TVRI. Sengsara Membawa Nikmat dibintangi oleh Desy Ratnasari, Septian Dwi Cahyo, Sandy Nayoan.

3. Sabai Nan Aluih

Sabai Nan Aluih merupakan cerita yang cukup populer di kalangan masyarakat Sumbar. Cerita rakyat dari Padang Tarok, Baso, Agam ini sering menjadi cerita dalam kesenian Randai.

Sabai Nan Aluih sama dengan Sengsara Membawa Nikmat, ditayangkan di TVRI dengan format miniseri. Bintang utama dalam Film ini adalah Desy Ratnasari yang memerankan Sabai Nan Aluih, anak perempuan satu-satunya dari Rajo Babanding dan Sadun Saribai.

Sabai nan Aluih sendiri mengisahkan perjuangan seorang anak perempuan yang berusaha menyelamatkan nyawa ayahnya saat bertarung dengan Raja Nan Panjang.

4. Siti Nurbaya

220px-Siti_Noerbaja_ad siti-nurbaya

Siti Nurbaya adalah sebuah roman yang bercerita tentang kisah cinta yang tak sampai antara dua orang kekasaih karya Marah Rusli. Roman ini cukup populer di Indonesia yang kemudian beberapa kali diangkat menjadi film dan sinetron.

Film pertama tentang Siti Nurbaya adalah tahun 1942, disutradarai oleh Lie Tek Swie. Dibintangi oleh Asmanah, Momo, dan Soerjono. Lie Tek Swie sendiri sebelumnya juga menggarap dua film adaptasi yaitu Njai Dasima dan Melati van Agam.

Film kedua Siti Nurbaya dan yang paling populer adalah ditayangkan pada tahun 1991. Film ini disutradarai Dedi Setiadi dan dibintangi Novia Kolopaking sebagai Nurbaya, Gusti Randa sebagai Samsu, dan HIM Damsyik sebagai Meringgih. Dan berkat film inilah HIM Damsyik menjadi terkenal sebagai Datuk Maringgih.

Selanjutnya Siti Nurbaya ditayangkan pada 2004, kali ini digarap oleh Encep Masduki dan dibintangi Nia Ramadhani sebagai Nurbaya, Ser Yozha Reza sebagai Samsu, dan Anwar Fuady sebagai Meringgih dan film ini ditayangkan di TransTV.

5. Jangan Panggil Aku Cina

Jangan-panggil-aku-cina

Ini adalah salah satu FTV dengan tema cerita Sumatera Barat yang booming banget di jamannya. FTV ini ditayangkan tahun 2002 bercerita tentang seorang dokter yang diperankan Teddy Syah dan Olivia (Pia) yang diperankan Leony Vitria Hartanti.

Konflik di film ini cukup menarik, sang dokter bernama Yusril akan dijodohkan oleh Mamaknya dengan anaknya (Pulang ka bako). Tapi disaat itu dia juga jatuh cinta dengan Pia, gadis keturunan Tionghoa.

Lebih tragisnya lagi, Yusril ini adalah lelaki Pariaman, sehingga untuk menikah dengannya, Pia harus menyediakan uang jemputan hingga puluhan juta.

Namun cinta tak menyurutkan langkah Yusril dan Pia. Diam-diam Yusril menjual mobilnya untuk membantu Pia membiayai uang jemputan sebesar Rp 40 juta bagi Yusril. Tapi hasil penjualan mobil tersebut hanya 20 juta.

Setelah lika-liku yang panjang dan penuh drama, akhirnya syarat uang jemputan itu dibatalkan oleh Mamak Yusril. Yusril bahkan diberi uang Rp 40 juta oleh Mamaknya untuk melanjutkan kuliah. Ia pun akhirnya menikah dengan Pia.

Tapi kisah ini tak hanya berakhir di FTV. Karena kemudian banyak yang menjadikan kisah tersebut sebagai bahan penelitian, skripsi bahkan tesis.

6. Di Bawah Lindungan Ka’bahDi bawah Lindungan Ka’bah By Sobat Fauza

Film ini merupakan adaptasi dari novel karangan Buya Hamka dengan judul yang sama. Film yang dirilis tahun 2011 ini dibintangi oleh Herjunot Ali dan Laudya Cynthia Bella serta disutradarai oleh Hanny R. Saputra.

Film ini bercerita tentang dua seorang pemuda miskin bernama Hamid yan mencintai Zaenab anak dari keluarga kaya.

Hamid kemudian disekolahkan oleh ayah Zaenab, sementara ibunya bekerja di rumah Zaenab. Seringnya pertemuan antara Hamid dan Zaenab membuat keduanya jatuh cinta. Namun hutang budi dan perbedaan status sosial membuat cinta mereka tak bisa bersatu.

Hamid pun akhirnya terusir dari kampung, ia kemudian pergi ke Mekkah. Sementara di kampung, Zaenab berjanji hanya akan menikah dengan orang yang dicintainya. Zaenab pun akhirnya meninggal dan mendengar kabar tersebut, Hamid di Mekkah jatuh sakit lalu menyusul Zaenab menghadap sang ilahi.

7. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk

d140da94036853590b0b88a98022ada8palvander

Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk merupakan film yang diadaptasi dari sebuah novel karya Buya Hamka dengan judul yang sama. Film ini dirilis tahun 2013 dan disutradarai oleh Sunil Soraya.

Film ini diproduksi dengan biaya yang cukup tinggi, bahkan film ini adalah film termahal yang dibuat oleh Soraya Intercine Films. Proses produksinya memakan waktu lima tahun dan penulisan skenarionya selama dua tahun.

8. Salisiah Adaik

Di Minangkabau, di setiap daerah mempunyai adat istiadat yang berbeda. Termasuk di Payakumbuh dan Pariaman, dimana di Payakumbuh dengan Adat Sasuduik dan Pariaman dengan adat Bajapuik.

Adat Sasuduik adalah kewajiban bagi calon mempelai pria untuk melengkapi seluruh kebutuhan dan isi kamar calon mempelai wanitanya. Sementara Adat Bajapuik di Pariaman membuat pihak mempelai perempuan harus membayar sejumlah uang yang disebut Uang Japuik kepada calon mempelai pria.

Perbedaan adat inilah yang kemudian menghalangi cinta Ros, gadis Payakumbuh, dan Muslim pemuda asal Pariaman untuk menyatukan cinta mereka dalam tali suci pernikahan.

Film karya Ferdinand Almi, mahasiswa ISI Padang Panjang banyak menarik perhatian masyarakat Sumbar. Selain itu film ini juga memenangkan penghargaan Piala Maya 2014 sebagai Film Daerah Terpilih.

9. Tujuh Manusia Harimau

Tujuh Manusia Harimau adalah sebuah novel karya sastrawan Minang Motinggo Boesje yang diterbitkan pada 1980. Serial novel ini terdiri dari 10 jilid.

Pertama kali diadaptasi menjadi film pada tahun 1986. Film dengan judul yang sama dengan Novelnya tersebut disutradarai oleh Imam Tantowi dan diperankan antara lain oleh Ray Sahetapy dan El Manik.

Sekarang 7 Manusia Harimau diproduksi kembali dalam bentuk Sinetron oleh SinemArt dan ditayangkan di RCTI. Lokasi syutingnya dilakukan di sebuah desa di Bengkulu.

Film dan Novel ini bercerita tentang cerita mistis tentang manusia harimau atau ‘Inyiak’ dalam sebutan keseharian oleh masyarakat Minangkabau. Cerita ini dipercayai turun temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi.

10. Palasik

Palasik merupakan sebuah ilmu hitam dimana sang pemilik ilmu memakan bayi untuk bertahan hidup. Palasik sendiri bukan isapan jempol semata, kejadian orang tua yang anaknya dihisap darahnya oleh Palasik.

Palasik menghisap darah bayi mulai dari sejak dalam kandungan ataupun darah bayi yang masih dalam keadaan rapuh. Bahkan ada jenis palasik yang memakan mayat bayi yang meninggal.

Dalam film yang disutradarai Muhamzami ini, sudut pandang yang diceritakan berbeda dari biasanya. Dalam film ini terjadi penolakan dari ahli waris Palasik untuk mewarisi ilmu sesat tersebut.

11. Merantau

Film ini menceritakan tentang tradisi merantau bagi laki-laki di Minangkabau. Film bergenre laga ini dibintangi oleh Iko Uwais dan sejumlah aktor lainnya serta disutradarai oleh Gareth Evans.

Selain menceritakan tradisi merantau bagi lelaki Minang, dalam film ini yang cukup banyak ditonjolkan adalah Silek (Silat) Harimau yang dipelajari oleh Yuda (Iko Uwais) sebelum ia pergi Merantau.

12 – 14. Dang Tuanku, Perang Kamang dan Tuanku Imam Bonjol

Tiga film tersebut merupakan film yang diangkat dari cerita masyarakat Minangkabau. Namun sayang, kami tidak mendapatkan referensi yang cukup tentang ketiga film tersebut.

Semoga artikel ini bisa menambah wawasan kamu tentang Sumatera Barat khususnya di dunia perfilman. Kalau kamu punya tambahan informasi yang mungkin kami lewatkan silahkan tuliskan di kolom komentar ya 🙂

Komentar

To Top
Loading...