Featured

Mengenal Melati, Sang Pelantun ‘Kutang Barendo’

Melati
Melati

Lailalah Kutang Barendo
Nan Tampuruang Sayak Babulu
Lah Tamanuang Gaek Agogo
Takana mudo nan daulu

Itulah sepenggal lirik dari lagu minang Kutang Barendo yang legendaris. Meskipun sebenarnya lagu tersebut diciptakan pada dekade 1970-an, namun hingga kini masih banyak masyarakat yang tahu lagu tersebut baik tua ataupun muda.

Tapi mungkin tak banyak yang tahu siapa pelantun awal lagu tersebut. Dia adalah Melati, sosok wanita asal Gunuang Sago, Nagari Situjuah Ladang Loweh, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Limapuluh Kota. Lagu tersebut diciptakan oleh ayahnya sendiri Almarhum Rasyd Efendi Dt. Bagindo Bodi.

Melati sepenuhnya mendedikasikan dirinya di dunia tarik suara semenjak usia 5 tahun. Di usia sedini itu Melati sudah turun naik panggung karena memang orang ayahnya seorang seniman yang mengelola personel grup Taruna.

Karena kesibukannya di dunia ‘dendang’ pulalah Melati tidak sempat menamatkan pendidikannya. Bahkan untuk sekolah Melati hanya sampai kelas 3 SD saja. Ia tidak sempat belajar karena kesibukannya. Selain itu apa yang ditanamkan oleh Ayahnya juga membuatnya tidak melanjutkan sekolah.

loading...

“Kata ayah, kalau sudah pandai mencari uang, tidak perlu sekolah lagi. Nah, saat kelas II sampai kelas III SD, jujur saja, uang saya cukup dari hasil berdendang,” kata Melati seperti dikutip dari Singgalang.

Didikasinya di bidang musik memang mampu membawa Melati kepada kesuksesan. Umur 11 tahun Melati sudah rekaman dan mempunyai album. Album pertamanya berjudul ‘Cinto Nan Suci’ pada yang diluncurkan pada tahun 1975. Melati bisa dibilang sangat produktif dibandingkan dengan penyanyi Minang lainnya. Hingga tahun 2011 sudah ratusan album yang ditelurkannya.

Namun album yang paling booming dan melambungkan nama Melati adalah album Kutang Barendo. Ya, karena lagu Kutang Barendo itulah nama Melati semakin terkenal dalam dunia musik Minang. Bahkan hingga sekarang lagu tersebut masih disukai banyak orang.

Lagu Kutang Barendo sebenarnya bukan lagu biasa, karena pada lagu tersebut banyak terdapat pesan-pesan moral terutama untuk anak muda. Menurut Melati, Kutang Barendo bukanlah tentang sebuah Bra, tapi Kutang Barendo yang dimaksud adalah pakaian dalam kaum ibu Minangkabau zaman dulu.

Lagu tersebut diciptakan oleh Ayah Melati, Rasyd Efendi Dt. Bagindo Bodi sebagai bentuk kegelisahan melihat pergaulan anak muda di zaman itu. Bebasnya pergaulan antara laki-laki dan perempuan, tren laki-laki yang meniru perempuan dan hal-hal lainnya yang menjadi kegelisahan dirinya sebagai seorang ayah.

Dendang dan Lagu juga membawa melati ke beragam negara di Asia Tenggara. Bahkan Melati pernah menerima penghargaan HDX Award melalui lagu Bugih Lamo ciptaan Tarun Yusuf. Pencapaian Melati ini mengikuti sukses di tahun sebelumnya oleh Zalmon melalui lagu Nan Tido Manahan Hati ciptaan Agus Taher.

Sukses melati di panggung dan dunia dendang ternyata tak sesukses hubungan cintanya. Dua kali ia menikah, dua kali pula ia bercerai. Pertama kali Menikah pada usia 19 tahun dengan seorang pemuda bernama Indra. Pernikahan tersebut harus kandas karena masalah yang menimpa rumah tangga mereka. Dengan Indra, Melati dikaruniai seoarang anak laki-laki.

Pernikahan kedua Melati dengan pria Tanah Datar bernama Isur. Dengan Isur, Melati menjalin hubungan rumah tangga hingga 14 tahun dan dikaruniai tiga orang anak wanita. Namun, ikatan suci tersebut tak mampu dipertahankan oleh Melati, ia pun kembali bercerai.

Itulah sepenggal cerita tentang Melati, seorang wanita yang mendedikasikan hidupnya dalam kesenian Minang.

Komentar

To Top
Loading...