Artikel

Cerita-Cerita Tentang Ungku Saliah, Ulama dari Pariaman

Ungku Saliah

Mungkin ada banyak diantara Dunsanak atau Anda yang mampir ke warung nasi Padang atau kedai nasi ampera menemukan foto seorang kakek di sana. Munkin tak sedikit juga dari Anda yang penasaran siapa orang yang ada di foto tersebut.

Foto tersebut adalah foto Ungku Saliah, seorang ulama yang terkenal shaleh dan ‘dikeramatkan’ sebagian masyarakat. Sebutan Ungku berasal dari kata Tuanku (dibaca; Tuangku), yaitu sebuah gelar yang diberikan kepada seorang ulama setelah ia selesai menuntut ilmu dan dianggap telah cukup ilmu untuk mengajarkan agama.

Sementara kata Saliah berasal dari kata Saleh, yaitu gelar pelengkap dari Tuanku. Biasanya seorang ulama digelari dengan nama-nama tertentu setelah ia dinobatkan sebagai Tuanku. Misal, Tuanku Kaciak, Tuanku Bagindo dan lainnya. Gelar Tuanku sendiri banyak dipakai oleh ulama-ulama Tarekat di Pariaman.

Sekarang mari kita mengenal siapa itu Ungku Saliah, ulama terkenal yang kemudian banyak ‘dikeramatkan’ oleh pengikut dan masyarakat, bahkan sampai hari ini fotonya banyak dipajang di warung nasi atau di tempat berjualan.

1. Daerah Asal Ungku Saliah

Ungku Saliah berasal dari Sungai Sariak, tepatnya di Lubuak Bareh di Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman. Di sinilah Ungku Saliah lahir dan menghabiskan masa kecilnya serta belajar ilmu agama.

loading...

Selain itu Ungku Saliah juga pernah keluar dari Sungai Sariak untuk belajar agama. Seperti ke Koto Tuo dan Bintungan Tinggi. Namun setelah itu dia kembali menetap di Sungai Sariak untuk mengajarkan agama.

2. Kelahiran dan Masa Kecil

Ungku Saliah diperkirakan lahir pada 1887, tidak ada tanggal maupun bulan pasti kelahiran beliau. Beliau merupakan anak dari Tulih (Ayah) dan Tuneh (Ibu; Sikumbang) dan dilahirkan di Pasa Panjang Sungai Sariak. Beliau merupakan anak tertua dan memiliki empat orang saudara.

Nama kecil Ungku Saliah adalah Dawat atau teman-teman dan keluarga menyebutnya Dawaik. Menurut penuturan dan cerita yang turun temurun sejak kecil Dawaik memang sudah menunjukkan keistimewaan. Misalnya pada suatu ketika ia menanak nasi tidak pakai api, namun beras yang dimasak tetap matang.

3. Belajar Ilmu Agama

Dawaik mulai belajar ilmu agama pada usia 15 tahun, guru pertamanya Syekh Muhammad Yatim Tuangku Mudiak Padang, seorang ulama yang menyebarkan islam di Surau Kalampaian Ampalu Tinggi. Di sanalah ia menempuh pendidikan pertamanya dan mendapatkan gelar Tuanku Saleh atau Ungku Saliah.

Ungku Saliah sempat berguru kepada dua ulama besar lainnya, yang pertama Syekh Aluma Nan Tuo di Koto Tuo, Bukittinggi. Setelah itu ia juga memperdalam ilmu tarekatnya lagi kepada Syekh Abdurrahman di Surau Bintungan Tinggi.

4. Wafat dan Foto Yang Dikeramatkan

Ungku Saliah wafat di rumahnya di Sungai Sariak pada 3 Agustus 1974. Setelah wafat, konon yang meng-keramat-kan Ungku Saliah adalah murid-murid dari Hamzah Alfansuri yang merupakan salah satu tokoh dari tarekat Syattariyah.

Sampai saat Ungku Saliah masih dianggap keramat bagi sebagian orang, terutama mereka yang berasal dari Pariaman. Bahkan banyak diantara mayarakat yang memajang foto Ungku Saliah sebagai pelaris dagangan. Namun banyak juga yang hanya memajangnya karena mengagumi sosok Sang Ulama tersebut.

5. Cerita-Cerita Keramat Ungku Saliah

Banyak cerita keramat tentang Ungku Saliah yang beredar di masyarakat. Cerita ini turun temurun diceritakan dari mulut ke mulut, karena memang catatan dan literatur mengenai kehidupan beliau memang sangat minim.

Keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki Ungku Saliah dalam cerita masyarakat tersebut antara lain bisa berpindah tempat dalam waktu yang singkat, bisa meramalkan apa yang akan terjadi, doanya yang terkabulkan dan masih banyak lainnya.

Itulah cerita dan beberapa informasi mengenai Ungku Saliah. Mudah-mudahan kita bisa menghormati beliau sebagai seorang ulama. Dan jangan melebih-lebihkan keistimewaan beliau bahkan menganggapnya sebagai pelaris dagangan.

Komentar

Trending

To Top
Loading...