Wisata

Menyibak Keindahan Lembah Harau, The Yosemite of Indonesia

Lembah Harau

Akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk melepas lelah dan menghilangkan segala beban pikiran yang telah menumpuk selama beberapa hari. Salah satu aktivitas yang bisa dilakukan adalah dengan jalan-jalan, apalagi kalau ke Lembah Harau, yang karena keindahannya bahkan dijuluki sebagai The Yosemite of Indonesia. Bukan tanpa alasan julukan itu diberikan, karena memang keindahannya sebanding dengan Lembah Yosemite yang ada di Sierra Nevada, California, Amerika Serikat.

Lembah Harau sendiri berada dalam wilayah administratif Kabupaten Limapuluh Kota atau berada ± 138 km dari Padang ± dan 47 km dari Bukittinggi atau sekitar ± 18 km dari Kota Payakumbuh dan ±2 km dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota.

Lembah Harau merupakan sebuah lembah atau ngarai yang terbentuk dari patahan turun akibat peristiwa tektonik sehingga membentuk wilayah lembah yang datar dan diabit oleh dua dinding perbukitan dengan tebing yang curam. Dinding perbukitan di Lembah Harau inilah yang membuatnya dijuluki Yosemite of Indonesia karena bentuk dan warnanya mirip dengan dinding bukit di Lembah Yosemite.

Bukit yang mengapit Lembah Harau memiliki ketinggian 100-500 meter dan sangat cocok dikembangkan untuk olahraga ekstrim panjat tebing. Setidaknya ada 300 lokasi panjat tebing di Lembah Harau yang menjadikannya salah satu surga bagi pecinta olahraga panjat tebing. Selain untuk olahraga panjat tebing, keindahan Lembah Harau dengan tebingnya yang kemerah-merahan menjadi surga tersindiri bagi para fotografer atau bagi Anda yang sekedar ingin menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan.

Legenda dan Asal Usul Lembah Harau

Lembah Harau

Lembah Harau via Wira Nurmansyah

Asal kata Harau diyakini berasal dari kata Parau (serak). Hal ini bermula dari warga di atas Bukit Jambu yang sering terkena banjir, mereka pun sering berteriak dan minta tolong hingga suara mereka pun menjadi parau. Dengan ciri suara penduduknya banyak yang parau didengar maka daerah tersebut dinamakan orau dan kemudian berubah nama menjadi Arau hingga akhirnya penyebutan lebih sering menjadi harau.

Berdasarkan kepercayaan masyarakat sekitar Lembah Harau dulunya diyakini sebagai sebuah lautan. Dalam legenda yang diyakini masyarakat sekitar di atas tebing Lembah Harau dulunya terdapat sebuah kerajaan. Rajanya memiliki seorang putri yang amat cantik. Namun sang Putri tidak mau menikah dengan lelaki pilihan ayahnya, hingga akhirnya ia terjun ke laut. Sang Raja pun memerintahkan segenap pasukannya untuk mengeringkan lautan tersebut dan setelah lautan kering sang putri tetap tidak ditemukan.

Legenda lain yang menarik dari Lembah Harau adalah Legenda Puti Sari Banilai. Dalam legenda Puti Sari Banilai juga disebutkan dulunya Lembah Harau adalah sebuah lautan. Dalam cerita tersebut Puti Sari Banilai bersama kelurganya dan kelurga tunangannya Bujang Juaro untuk merayakan pertunangan mereka. Namun, naas kapal mereka terbawa arus dan terpisah. Sementara kapal Puti Sari Banilai tersangkut di sebuah selat yang sekarang menjadi Lembah Harau.

Akhirnya karena kapal mereka rusak parah mereka pun pergi ke daratan dan diterima dengan baik oleh raja di tempat tersebut. Sekian lama hidup di sana, ayah Puti Sari Banilai ingin menikahkan anaknya dengan pemuda setempat karena sudah tidak mungkin bagi mereka untuk kembali ke kampung halaman. Namun, ayahnya tidak tahu kalau Puti Sari Banilai telah berikrar dengan Bujang Juaro, bahwa siapa mengkhianati cinta mereka akan dikutuk, Puti Sari Banilai dikutuk menjadi batu dan Bujan Juaro menjadi ular.

Singkat cerita Puti Sari Banilai akhirnya menikah dengan Rambun Paneh dan mendapatkan seorang putra dari pernikahan tersebut. Pada suatu hari pada saat putra Puti Sari Banilai bermain ia jatuh ke dalam laut, Puti Sari Banilai pun langsung terjun ke laut untuk mencari anaknya. Namun malang, ia pun dihempas ombak dan terjepit di sebuah batu besar. Saat itulah ia teringat akah sumpahnya dengan Bujang Juaro tunangannya dulu, perlahan kakinya pun mulai menjadi batu, Puti Sari Banilai pun berdoa agar lautan dikeringkan dan doanya dikabulkan. Tapi terlambat tubuhnya telah menjadi batu.

Ada banya versi mengenai cerita tentang Puti Sari Banilai ini, namun semuanya memiliki kesamaan yaitu dulunya Lembah Harau adalah lautan. Kisah-kisah legenda tersebut seakan memperkuat hasil penelitian dari tim Geologi asal Jerman tahun 1980 yang menemukan bahwa batuan di Lembah Harau merupakan batuan jenis Breksi dan Konglomerat yang biasanya terdapat di laut atau pantai. Umur batuan di Lembah Harau sendiri diperkirakan berumur 30-40 juta tahun.

Alam Lembah Harau

Alam Lembah Harau via Wira Nurmansyah

Alam Lembah Harau via Wira Nurmansyah

Lembah Harau memiliki keindahan alam yang menakjubkan yang terbagi ke dalam tiga Resort yaitu Resort Aka Barayun, Resort Sarasah Bunta, dan Resort Rimbo Piobang. Di Resort Aka Barayun ini terdapat sebuah air terjun dan sebuah kolam pemandian yang masih asri. Sementara di Resort Sarasah Bunta sendiri terdapat empat buah Sarasah (Air Terjun) yaitu sarasah Aie Luluih, Sarasah Bunta, Sarasah Murai dan sarasah Aie Angek.

Pada Sarasah Aia Luluih Anda dapat mandi dan mencuci muka. Mencuci muka di sini juga diyakini dapat menghilangkan jerawat dan menambah kecantikan. Sementara Sarasah Bunta memiliki keindahan dan diyakini saat ada pelangi maka bidadari turun untuk mandi di sini. Sementara itu Sarasah Murai dinamakan demikian karena di sana sering terlihat adanya murai yang sering memadu kasih. Dan Sarasah Aia Angek memiliki keunikan dengan airnya yang lebih hangat dari tiga air terjun lainnya.

Prasasti Lembah Harau

Prasasti Lembah Harau di Sarasah Bunta via koleksifotorank9.blogspot.com

Selain itu yang perlu diketahui bahwa Lembah Harau ditetapkan sebagai cagar alam sejak 10 Januari 1993.  Luasnya sendiri mencapai 270,5 hektare dan dipenuhi oleh tumbuhan dan hewan khas hutan tropis. Salah satu hewan dilindungi yang terdapat di hutan ini adalah Macaca fascicularis atau kera ekor panjang.

Lembah Harau diresmikan pada tahun 14 Agustus 1926 oleh Assisten Residen Lima Puluh Kota yang bernama J.H.G Boissevain,  dengan E. Rinner bernama  B.O.Werken bersama Tuanku Lareh Sarilamak yang bernama Rasyad Dt. Kuniang nan Hitam dan assisten Demang  yang bernama Janaid Dt. Kodo Nan Hitam. Hal ini tercatat di sebuah prasisti di Sarasah Bunta.

Fasilitas dan Kegiatan

Lembah Harau

Berperahu di Lembah Harau | Foto: @farhanseashell

Fasilitas penunjang yang ada di Lembah Harau cukup lengkap. Akses jalan ke tempat wisata ini juga cukup bagus. Di sini juga tersedia Cottage bagi Anda yang ingin menginap di Lembah Harau. Anda juga tidak akan kelaparan karena di sini juga tersedia warung penjual makanan.

Anda juga bisa bersepeda atau sekedar berkeliling untuk melihat dan menikmati keindahan Lembah Harau serta menikmati segarnya udara di sana. Selain itu di sini juga tersedia wahana outbond bagi Anda yang ingin sedikit tantangan.

Maps

Lembah Harau, the Yosemite of Indonesia. Salah satu surga di Tanah Indonesia

Trending

To Top